Home » Posts filed under Tegal
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
FEBRI Idol yang merupakan finalis Indonesia Idol asal Kabupaten Tegal, mengibur ratusan bidan saat Hari Ulang Tahun (HUT) Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke-61 di gedung Korpri Slawi, Kamis (12/7) kemarin.
Lelaki kelahiran 25 Februari 1988 tersebut menyanyikan dua buah lagu. Dia mengawalinya dengan lagu milik grup band Seventeen yang berjudul Jaga Slalu Hatimu. Para bidan beteriak histeris memanggil-manggil nama Febri. Beberapa bidan ada pula yang nampak maju sekedar ingin melihat Febri lebih dekat dan memotretnya.
Sebelum lagu kedua dinyanyikan, Febri Idol menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh masyarakat Kabupaten Tegal khususnya yang telah memberikan dukungan pada saat menjadi finalis Indonesia Idol. “Kami berterima kasih karena atas doa dan dukungannya, dari Kabupaten Tegal ada yang bisa masuk menjadi finalis pada acara Indonesia Idol,” ujarnya.
Di lagu keduanya, Febri yang menyanyikan lagu milik Firman yang berjudul Kehilangan, Febri mengajak salah satu bidan untuk naik ke atas panggung. Para bidan pada saat itu merasa terhibur karena hari ulang tahun yang bersamaan dengan seminar dihibur oleh finalis Indonesia Idol yang selama ini selalu ditonton setiap minggu di salah satu stasiun telivisi swasta.
“Kami senang dan merasa terhibur, karena kami bisa lebih dekat dan bisa melihat finalis Indonesia Idol secara langsung,” kata salah satu bidan, Puji.
Febri dalam kesempatan itu hanya menyanyikan dua buah lagu. Beberapa bidan yang mungkin ngefans dengan Febri, setelah selesai menyanyi, mereka mengikuti Febri ke ruang transit dan meminta foto bersama serta meminta tanda tangannya.
Penampilan Febri itu menjadi acara selingan ditengah seminar kebidanan yang digelar di tempat yang sama. Adapun tema peringatan HUT IBI ke-66 tersebut yaitu ”Komitmen Bidan dengan Aksi Nyata dalam Mendukung Percepatan Pencapaian MDGs 2015”.
Dalam peringatan HUT IBI diadakan berbagai macam acara yakni seminar, pelatihan-pelatihan, bakti sosial, dan anjangsana kepada anggota IBI yang sudah purna tugas.
“Kami mengadakan beberapa rangkaian kegiatan pada HUT IBI ke-61 ini,” kata penyelenggara, Dwi Puji Riyanti, saat memberikan laporan.
Hadir dalam kesempatan itu, Asisten II Setda Kabupaten Tegal Agus Subagyo, Kepala Dinas Kesehatan dr Hendardi, perwakilan Pengurus Daerah IBI Jateng Sugiarti, serta sejumlah Pengurus PKK Kabupaten Tegal.
Dalam sambutannya, perwakilan IBI Jateng, Sugiarti, berpesan kepada seluruh bidan agar memberikan pelayanan kebidanan secara maksimal. Yakni dengan meningkatkan kemampuan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). (fat)Sumber Berita :
http://www.radartegal.com/index.php/Febri-Idol-Hibur-Ratusan-Bidan.html
SLAWI, 18 Mei 2012. – Seperti tahun tahun sebelumnya, dalam puncak Hari Jadi Kabupaten Tegal ke 411 telah diadakan Kirab Pusaka dengan rute mulai dari Rumah Dinas Bupati Tegal hingga Pendopo Kabupaten.
Acara di iringi oleh Wakil Bupati Tegal H. Moch Hery Soelistiyawan, SH. M.Hum, dan deretan pawai seperti dari IWAPI, PGRI Kab. Tegal, rombongan dari Polres Tegal dan pejabat-pejabat lain. Marchingband pun seperti tak luput dari araca kirab pusaka tersebut, seperti marchingband dari MAN Babakan dan lainnya ikut serta berpartisipasi dalam acara Kirab Pusaka yang dilaksanakan pada hari ini.
Sukses selalu Kabupaten Tegal, semoga makin mbetahi lan ngangeni.
SLAWI - Pemkab Tegal bekerja sama dengan PT Gunung Slamat Slawi dan Asosiasi Pedagang Martabak dan Jajanan (Almarjan) berhasil menciptakan dua rekor Muri sekaligus, yakni poci terbanyak dengan jumlah 1.500 buah dan martabak manis raksasa dengan diameter dua meter. Penciptaan rekor Muri itu dilaksanakan dalam acara Rakyat Tegal Moci Bareng di lapangan Pemkab Tegal, Sabtu (12/5) malam.
Pembuatan martabak raksasa dimulai sejak pukul 16.00. Para penjual martabak Lebaksiu yang tergabung dalam Almarjan membuat penganan itu di pinggir panggung pertunjukan. Hal serupa juga dilakukan jajaran PT Gunung Slamat yang memproduksi teh Cap Poci yang sudah bersiap-siap menyediakan tenda dan poci sejak siang hari.
Sejak 19.00, ribuan warga Kabupaten Tegal berduyun-duyun memadati lapangan Pemkab Tegal. Jalan menuju areal perkantoran Pemkab Tegal macet. Ini ibarat menjadi mudik kedua bagi warga Tegal.
Usai dilakukan penilaian, tim Muri mengumumkan 1.500 poci dan martabak diameter dua meter masuk rekor Muri dunia. Piagam penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia diserahkan Wakil Bupati Tegal, HM Hery Sulistiyawan kepada pemilik PT Gunung Slamat, Sugiarto Sosro Joyo dan Ketua Almarjan Indonesia, H Musa Abdullah.
Unjuk Kebolehan
Dalam kesempatan itu, juga ditampilkan tarian khas Kabupaten Tegal berupa Tari Kuntulan dan Tari Topeng. Bahkan, maestro Tari Topeng Tegal, Suwitri juga ikut menunjukkan kebolehannya menarikan Tari Topeng Kresna. Tak hanya itu, lagu Tegalan juga dimainkan untuk menghibur para pengunjung.
Ketua Panitia Moci Bareng Rakyat Tegal, Wakhidin BA mengatakan, penciptaan rekor Muri 1.500 poci dan martabak raksasa kerja sama Pemkab Tegal bersama komunitas facebook Sisi Lain Kabupaten Tegal (SLKT), PT Gunung Slamat, Almarjan, Naga Mas, Mie Sedap, dan Sophie Martin. Pihaknya melibatkan semua unsur masyarakat, dari pemerintah daerah, pemerintah desa, ormas, LSM, pelajar, mahasiswa dan lainnya. Bahkan, masyarakat Tegal yang hidup di Jabotabek juga akan ikut meramaikan
”Kami kewalahan karena masyarakat yang hadir membeludak. Banyak yang tidak mendapatkan poci dan jajanan khas Slawi,” katanya. (H64-48) (/)
Sumber Berita : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/05/14/186378/Moci-Terbanyak-dan-Martabak-Raksasa-Masuk-Rekor-Muri
| Wakil Bupati Tegal H. Moch Hery Soelistiyawan |
BERTEMPAT di Gedung Rakyat Slawi, Wakil Bupati Tegal, H Moch Hery Soelistiyawan SH MHum, menjadi saksi nikah masal tujuh pasang pengantin. Pernikahan secara masal yang dilakukan dalam rangka hari jadi Kabupaten Tegal tersebut, digelar Selasa (15/5) kemarin, berlangsung hidmat. Selain disaksikan oleh Wakil Bupati Tegal bersama istri, juga disaksikan sejumlah pimpinan SKPD serta Kepala Kantor Urusan Agama se-Kabupaten Tegal.
Ketua Panitia Nikah Masal, Mujahidin Nur Burhan, yang juga Kasi Urais Kementrian Agama Kabupaten Tegal, dalam laporanNya mengatakan, kegiatan nikah masal ini sudah disosialisasikan kepada masayarakat. Hanya saja yang mengikuti sebanyak 7 pasang dari 5 kecamatan.
Mereka yang dinikahkan tersebut yakni Jamaludin dengan Widiastuti dari Kecamatan Slawi, Rudianto dengan Sakinah dari Kecamatan Kedungbanteng, Mufti Khasani dan Nur Ernawati dari Kecamatan Bumijawa, Ayib Abdurahman dan Maesaroh dari Kecamatan Bumijawa, dan Suradadi ada tiga pasang yakni Kunsaeri dengan Junaenah, Susnawari dengan Rokhimatul Khasanah, dan Sofi dengan Kusinah.
“Kami sudah lakukan sosialisasi kepada masyarakat. Namun hanya ada tujuh pasang yang mendaftar,” katanya.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Tegal, H Moch Herry Soelistiyawan SH MHum, berpesan agar pernikahan ini bisa dilakanakan dengan niat ibadah dan merupakan pemberian jodoh dari Allah SWT. Hal ini agar keberlangsungan setelah nikah nanti dapat menjadi keluarga yang bahagia. Dia juga memberikan pesan kepada orang tua atau wali untuk mengikhlaskan anaknya. Karena setelah nikah nanti, sudah menjadi tanggung jawab sang suami.
“Semoga setelah nikah ini, kedepan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah,” katanya.
Pesan yang lain juga dikatakan H Ahmad Darus MM, saat memberikan khotbah nikah. Setelah memberikan khotbah dengan memakai bahasa Arab, dia berpesan agar dalam hubungan sebagai suami sitri harus saling komunikasi dalam rangka menuju keluarga yang sakinah. Karena dengan komunikasi, semua masalah yang terjadi bisa dimusyawarahkan.
Sementara, salah satu pasangan suami istri yang baru saja dinikahkan, Sopi (50) yang sudah memiliki tiga orang anak dan istrinya Kusinah (50) yang sudah memiliki 4 orang anak dari suami sebelumnya, merasa senang dengan adanya nikah masal ini. “Ya, kami merasa senang. Semoga yang kami lakukan ini mendapatkan ridlo dari Allah,” kata Kusinah. (fat)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/Wabup-Jadi-Saksi-Nikah-Masal.html
Menurutnya, pada acara Ndopok Bareng Menteri, DPRD, dan Pemkab pada acara RTMB memecahkan rekor MURI, protokol Pemda yang notabene merupakan sub bagian pada Bagian Humas Setda, tidak benar jika dikatakan tidak menghormati salah satu narasumber ndopok bareng yakni Ki Slamet Gundono. Dikatakannya, ketika itu atas permintaan panitia Moci Bareng, Protokol Pemda termasuk Master of Ceremony (MC), hanya diserahi untuk pembukaan oleh Wakil Bupati Tegal. Sementara untuk acara ndopok atau dialog, ada pembawa acara dan moderatornya sendiri. “Jadi, acara ndopok sudah tidak ada kaitan dengan protokol,” ujarnya, kemarin.
Meskipun demikian, dia meminta maaf jika ada kekurangan ataupun kesalahan pada saat melaksanakan tugas tersebut. “Ini merupakan pelajaran berharga bagi kami untuk melaksanakan tugas kedepan,” ujarnya.
Seperti diberitakan kemarin, salah satu panitia RTMB, Tony SR yang pada saat itu menjadi pembawa acara mengatakan bahwa kegiatan RTMB yang didalamnya ada acara ndopok dengan tema Balik Desa Gotong Royong Mbangun Kabupaten Tegal tersebut, sudah diluar kendali panitia. Dia yang sedianya menjadi moderator bersama Teguh Eros, mengatakan, bahwa kehadiran Marco Marnadi sebagai moderator tersebut atas keinginan Pemkab yang tidak mengetahui alur yang akan dibicarakan pada ndopok tersebut. Dimana sedianya narasumber pada ndopok tersebut, yakni ada Ki Slamet Gundono bersama Hadi Utomo dan semua pejabat yang hadir, akan membahas isu yang sudah disediakan oleh panitia. Namun Ki Slaemt Gundono tidak naik ke atas panggung.
“Kang Slamet Gundono adalah narasumber kunci yang mewakili ruh SLKT. Tapi Saya melihat, Kang Slamet Gundono 'terusir' dari tempat duduknya dan merasa tidak dimanusiakan oleh protokoler Pemda. Disusul kemudian moderator diganti paksa oleh oknum penguasa. Karena tidak ada titik temu, maka kami (SLKT) memutuskan untuk menarik diri dari acara selanjutnya karena aroma 'sabotase' sudah menyesakkan dada,” kata Tony. (fat)
Kembali lagi mr san san ber ulah.. menjadi seorang petualang, menjelajah di daerah sekitar Tegal, minggu ini Mr San menyempatkan diri berpetualang ke Bumiayu - Kab. Brebes singgah di stasiun Desa Kretek, pergi ke Agrowisata Kebun Teh Kaligua, masuk ke Goa Jepang dan banyak yang Mr. San temui dan ketahui setelah petualangan kemarin, salah satunya yaitu harga jajanan disana.
Coba bayangkan 50% lebih murah di bandingkan dengan harga jajanan di Tegal.
Coba bayangkan 50% lebih murah di bandingkan dengan harga jajanan di Tegal.
Iseng - iseng Mr. San Melepas lelah, mampir di kedai es buah segar, ngobrol ngobrol sama penjualnya. "Wah pak buahnya hampir sama dengan Es Buah di Tegal bahkan lebih lengkap karna ada campuran rumput lautnya juga lho.
Di Tegal 1 porsi es buah di patok dengan harga rata-rata Rp. 7.000 rupiah, di Bumiayu cuma dengan Rp. 3.000 bisa nikmatin Es Buah yang sueeegerr itu.. wewww.. Mr. San juga heran, kenapa bisa begitu.?? gak tau lah, ga terlalu tak fikirkan... yang penting mak nyuss.. hehe
Di Tegal 1 porsi es buah di patok dengan harga rata-rata Rp. 7.000 rupiah, di Bumiayu cuma dengan Rp. 3.000 bisa nikmatin Es Buah yang sueeegerr itu.. wewww.. Mr. San juga heran, kenapa bisa begitu.?? gak tau lah, ga terlalu tak fikirkan... yang penting mak nyuss.. hehe
Langsung saja, ini dia perjalanan Mr. San dari Balapulang Kab. Tegal menuju Ke Bumiayu Kab. Brebes.
Mr. San tidak sendiri, bersama sahabat setia Mrs. Alma
lumayan dia bisa dijadikan tukang foto pribadi,, wkwkwk
Lokasi : Prupuk - Tegal
Masjid Agung Baiturrohim
Tepat di Tengah Kota Bumiayu
Ini Dia sampai juga di stasiun Kretek Paguyangan - Bumiayu
masih di stasiun Kretek Mr San berjumpa dengan kawan, orangnya asik sayang dia tak mau di ekspose fotonya.
Dari stasiun Kretek Mr. San lanjutin lagi perjalanan menuju Agrowisata Kebun Teh Kaligua
ini dia preview perjalanannya
si Kuda Biru yang slalu menemani perjalanan Mr. San San
you're the best ever :)
Mr. San 1 KM sebelum Agrowisata Kebun Teh Kaligua
layaknya seorang pecinta alam, menikmati dinginnya Suasana puncak
Foto waktu di Agrowisata Kaligua Mr. San posting lain waktu, cz udah sore.. Perut laper, pngin cepet cepet pulang nih.. ^_^
KRAMAT - Sejumlah nelayan di wilayah pantai utara Kabupaten Tegal, kini kembali beraktivitas mencari ikan atau melaut setelah sekitar tiga pekan terakhir perahunya ditambatkan akibat cuaca buruk.
Kondisi cuaca di laut Jawa berangsur normal dengan ketinggian gelombang antara 0,5 meter hingga 1 meter. Kondisi demikian dibenarkan Prakirawan Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika Tegal, Hendy Andriyanto, kemarin. Menurutnya, cuaca sudah kembali normal dari ketinggian gelombang sebelumnya 0,5 meter hingga 1,75 meter. Untuk itu, nelayan sudah diperbolehkan kembali melaut.
Meski demikian, pihaknya tetap menghimbau kepada nelayan, agar tetap waspada karena gelombang di tengah perairan sewaktu-waktu dapat naik akibat pengaruh tiupan angin dari arah selatan ke barat. "Kondisi cuaca di daerah Pantura diprakirakan berawan dan berpeluang hujan dengan intensitas ringan pada sore hingga malam hari. Angin bertiup dari arah barat daya hingga barat laut dengan kecepatan antara 05 hingga 30 Kilometer per jam," tegasnya.
Terpisah, salah seorang nelayan di TPI Larangan, Munjungagung, Kramat, Solihin (51), mengatakan, sejak tiga hari terakhirnya, pihaknya kembali beraktifitas di laut. Gelombang di laut saat ini cenderung tenang, khususnya pada saat pagi hari. Namun apabila menjelang sore dan malam hari, ombaknya kembali membesar. Karena itu, nelayan memilih untuk kembali ke daratan dan melautnya kalau pagi hari. "Hasil tangkapannya sudah lumayan banyak. Rata-rata, hasil tangkapan mereka adalah, teri nasi dan teri hitam. Tapi beberapa nelayan, ada juga yang mencari rebon yang digunakan untuk bahan baku terasi," paparnya.
Kendati aktifitas nelayan sudah kembali normal, namun transaksi lelang di TPI masih tampak sepi. Kemungkinan, karena belum banyak perahu yang melaut sehingga para tengkulak belum banyak yang datang. "Tidak lama lagi, TPI pasti bakal rame. Sebab, nelayan yang masih nganggur, sudah banyak yang berangkat melaut," pungkasnya.
source : radar tegal
DALAM rangka mendukung gerakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang dibarengi dengan penanaman pohon oleh Muspida Kabupaten Tegal, Pemerintah Desa Curug Kecamatan Pangkah melakukan penanaman pohon di wilayah jalan Curug-Pangkah. Jumlah pohon yang ditanam, 650 pohon jati. Kegiatan semacam ini juga dilakukan secara serentak di desa lain se-Kecamatan Pangkah, Rabu (8/2).
Penanaman pohon di wilayah tersebut dimaksudkan agar jalan yang ada tidak menjadi gersang. Hadir dalam penanaman pohon tersebut, Muspika Kecamatan Pangkah seperti Camat Pangkah Darmadi SH MM, Kapolsek Pangkah AKP Suratman, Danramil Pangkah Shokib S, UPTD BP4K, Kepala Desa Pagkah Budi Tresno, serta Kepala Desa Curug HMI Kartomo. Kehadiran mereka tidaklah sendiri-sendiri, dan tidak hanya memantau penanam saja. Tetapi, mereka juga melakukan penanaman secara bersama-sama yang diikuti oleh personil dari instansinya masing-masing.
Menurut Kepala Desa Curug, HMI Kartomo, pemilihan ruas jalan Curug-Pangkah sebagai lokasi penanaman pohon jati tersebut, merupakan pilihan desanya. Karena jalan tersebut merupakan jalan penghubung antar desa. Dengan harapan, nantinya jalan menjadi tidak gersang dan ramai dilalui oleh pengguna jalan.
“Jalan penghubung ini dulu sepi dari pengendara, karena mereka takut ketika melewati jalan ini. Karenanya, kami mengaktifkan dan melebarkan pula dengan diawali dari penanaman pohon,” ungkapnya.
Pihaknya selain melakukan penanaman pohon, di jalan tersebut nantinya akan dipasang lampu penerangan jalan agar tidak gelap. Dengan harapan nantinya jalan menjadi ramai untuk dapat dilalui dan meningatkan perekonomian masyarakat.
“Semoga apa yang kami rencanakan ini dengan diawali penanam pohon, apa yang kami harapkan bisa tercapai,” ujarnya.
Camat Pangkah, Darmadi SH MM, mengatakan, respon dari berbagai desa akhir-akhir ini banyak mengkhawatirkan tentang keadaan alam yang gersang dan berpengaruh buruk terhadap manusia. Kekhawatiran mereka karena banyakya longsor, krisis air bersih, dan lainnya. Dengan berkurangnya pohon di sekitar, akan berdampak pula pada lingkungan khususnya kesehatan masayarakat.
Dikatakanya, penghijauan ini menjadi sangat realistis untuk dilaksanakan. Dengan gerakan ramah lingkungan tersebut, perlu digalakkan agar desa lain melakukan penghijauan seperti di Desa Curug ini. “Kami berharap, dengan penghijauan ini sebagai contoh alternatif dalam rangka menata dan memelihara lingkungan terhadap desanya dan desa lain pada umumnya,” ungkapnya.
Di Pangkah, lanjut Darmadi, banyak terjadi tanaman mati akibat tebang tebu dengan dibakar. Pembakaran tebu tersebut banyak mengakibatkan tanaman di sampingnya mati. Yang menjadi persoalan adalah, matinya pohon tersebut tidak diganti dengan menanam kembali. Ini salah satu perosalan, karena kurang sadarnya masyarakat untuk menanam kembali.
“Kami sangat berharap, kalau ada pohon yang mati akibat itu semua, bisa menanam kembali pohon yang sudah mati agar tidak terjadi kekeringan dan kekhawtiran masayarakat yang ada,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Darmadi mengungkapkan rasa terima kasih kepada Desa Curug yag sudah merespon apa yang menjadi kehendak pemerintah dan masyarakat pada umumnya. (fatkhurohman)
Slawi, Cap Go Meh yaitu acara Puncaknya Hari Raya Imlek tepatnya pada hari Senin, 6 Februari 2012 di Klenteng Hok Ie Kiong slawi pukul 07.00 PM - 09.00 PM
walaupun diguyur gerimis, tetapi acara tetap berjalan. Mr. San disini hanya ingin mencari informasi layaknya seorang paparazi, hehe.. iseng hunting foto di acaranya orang Tionghoa. am just hunt the picture.. :D
Cap Go Meh - Puncak Hari Raya Imlek
di Klenteng Hok Ie Kiong Slawi - JL.Ahmad Yani 18, Slawi, Jawa Tengah 52411
Cap Go Meh - Puncak Hari Raya Imlek
di Klenteng Hok Ie Kiong Slawi - JL.Ahmad Yani 18, Slawi, Jawa Tengah 52411
Barongsai Klenteng Hok Ie Kiong Slawi
Acara Cap Go Meh di Klenteng Hok Ie Kiong Slawi juga dihadiri oleh
Ki Dalang Enthus Susmono dan Wakapolres Tegal Kompol Teguh Prastya SIk
Panggul Petekong Klenteng Hok Ie Kiong Slawi
Di Jalan Ahmad Yani Slawi
KONTRIBUSI parkir di Pasar Banjaran untuk
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Tegal, dianggap terlalu rendah.
Padahal jika melihat dilapangan, pendapatan parkir tersebut bisa
mencapai tiga kali lipat dari yang sudah ditargetkan.
Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Tegal, Nursidik,
mengatakan, bahwa parkir di pasar Banjaran dalam satu tahun bisa
ditargetkan Rp 100 juta. Tetapi kenyataan sekarang, kontribusi yang
diberikan ke Pemda hanya Rp 36 juta per tahun. “Ini harus ada
pembenahan di wilayah parkir Pasar Banjaran. Karena harusnya pemasukan
dari parkir bisa lebih dimaksimalkan,” katanya.
Dijelaskannya,
wilayah parkir di pasar banjaran ada tiga tempat. Yakni di wilayah
Barat, Selatan, dan Timur. Tiga wilayah atau lapak tersebut sudah
dibagi-bagi dan menyetorkan sendiri ke dinas terkait. Padahal dahulunya
lapak parkir tersebut di berikan kepada pihak ketiga yang sudah diberi
Surat Keputusan (SK). Namun, saat ini penerima SK tersebut sudah
meninggal dunia.
“Saya yakin, jika diperbaiki dan
dipihakketigakan, banyak orang yang berani menyetorkan hasil parkir
pertahun Rp 100 juta,” ujarnya. Nursidik pernah menanyakan kepada salah
satu petugas parkir di Banjaran, mereka katanya menyetorkan hasilnya
setiap hari mencapai Rp 100 ribu. “Sekarang tinggal dihitung saja.
Kalau satu hari Rp 100 ribu, dalam satu bulan bisa berapa juta?
Karenanya jika itu dikelola dengan baik dan dipihakketigakan,
pendapatan parkir di Pasar Banjaran bisa lebih besar dari pendapatan
yang ada sekarang,” tegasnya.
Dia menambahkan,
selain pendapatan parkir di pasar, pendapatan juga bisa dihasilkan
lebih banyak dari MCK di pasar. MCK di semua pasar, yang targetnya
kurang lebih Rp 29 juta itu bisa lebih banyak jika dikelola dengan
baik. “Semua itu tergantung bagaimana pengelolaannya. Kalau semua baik,
saya yakin PAD Kabupaten Tegal bisa lebih dari yang sekarang ada,”
pungkasnya. (fat)
KEBERADAAN Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di RW 7
Desa Kalisapu Kecamatan Slawi, diprotes warga dua RT. Selain dianggap
mengganggu lingkungan, lokasi TPS berdekatan dengan tempat peribadatan.
Disamping itu, saat ini banyak warga desa lain yang
juga turut membuang sampah di TPS tersebut. Apalagi hak kepemilikan
atas tanah yang digunakan untuk TPS, juga disoal.
Atas
kesepakatan warga dan seijin Kades, serta sudah melayangkan surat
kepada DPU Kabupaten Tegal, warga RT 2 dan 3 RW 7, Jumat (3/2) menutup
TPS itu. Penutupan sendiri dilakukan warga dengan menggunakan pagar
bambu dan dipasang spanduk bertuliskan “TPS Ini Ditutup”. Juga ada
papan kecil bertuliskan "Warga tidak boleh membuang sampah disini".
“Bahkan
saat ini area bahu jalan Gajah Mada yang melintas di sekitar TPS itu,
dimanfaatkan warga kami untuk berjualan bambu,” kata perwakilan dari
warga RT 2, Edi Prayitno, kemarin.
Dikatakan Edy
Prayitno, penutupan sendiri dilakukan saat ini dikarenakan yang
membuang sampah di TPS tersebut semakin tidak terkontrol. Bahkan jika
pengambilan terlambat, sampah menjadi bau dan dikeluhkan warga. Apalagi
lokasi TPS berdekatan dengan tempat peribadatan.
Menurut
dia, dengan direnovasinya TPS menjadi semakin besar, membuka
kesempatan bagi warga desa lain untuk berbondong-bondong membuang
sampahnya di TPS Kalisapu. Kondisi itulah yang membuat warga dua RT
bersepakat untuk menutup TPS tersebut.
“TPS menjadi semakin tidak terurus dan sampahnya mencemari lingkungan dengan bau yang tidak sedap,” ujarnya.
Disisi
lain perwakilan warga RT 3, Rasikin, juga menuturkan, warga tidak ada
kompromi lagi dengan keberadaan TPS tersebut. Bahkan kepada dinas
terkait di Pemkab Tegal, warga menginginkan agar lokasi TPS
dipindahkan. Karena keberadaannya sudah tidak representatif. “Lokasinya
terlalu menyolok karena berada di pinggir jalan boulevard arah ke
Kantor Sekretariat Pemkab Tegal. Disamping berdekatan dengan pemukiman
penduduk dan membuat polusi bau yang tidak sedap,” jelas Rasikin.
TIDAK JELAS
Keberadaan
TPS juga menyisakan status lahan yang tidak jelas, karena menurut
Mustaqim, keluarga Toyib (Alm), status tanah TPS itu masih milik
keluarganya. Namun dari Pemkab belum ada kejelasan disewa atau lainnya.
Bahkan hingga kini, menurut dia, keluarganya belum pernah mendapat
kompensasi apapun dari instansi terkait di Pemkab Tegal.
Meski
ada upaya dari Pemkab untuk menyewa lahan, untuk saat ini pihak
keluarganya sudah tidak memperbolehkan lagi. Pasalnya, bau dari sampah
sudah terlalu mengganggu lingkungan. Juga di depan TPS terdapat
mushola, sehingga kasihan warga 7yang beribadah di mushola itu jika
selalu disuguhi bau yang tidak sedap.
“Apalagi
saat musim hujan seperti sekarang ini, bau sampah sangat menyengat.
Bahkan saat sampah menggunung, membuat pemandangan yang tidak sedap.
Kami sekeluarga sepakat untuk menolak adanya TPS disitu,” terang
Mustaqim.
Terkait penutupan dan penolakan warga
atas TPS itu, mereka juga meminta agar Pemkab Tegal melalui instansi
terkait mencarikan solusi baru untuk TPS itu. Juga menghimbau agar pada
TPS juga diperhatikan pengangkutan sampahnya, agar tidak menggunung
hingga membuat pemandangan tidak sedap lagi. Atau, dapat mengakibatkan
polusi bau yang tidak sedap. Ini perlu diperhatikan oleh instansi
terkait. (gon)
KRAMAT - Awas!! Hati-hati bagi pengguna jalan yang melintas di Jalur pantai utara (Pantura) Kabupaten Tegal. Selain banyak lubang di sepanjang ruas jalan tersebut, juga minim lampu penerangannya. Terutama bagi pengendara roda dua yang melintas pada malam hari supaya lebih waspada. Hal ini dilontarkan Kapolsek Kramat AKP Ngakan Putra SH, kemarin.
"Kerusakan jalan itu, mungkin karena curah hujan yang terjadi pada musim ini sangat tinggi. Untuk itu, pengendara harus waspada khususnya yang kerap melintas pada malam hari," himbaunya.
Dia menyebutkan, ada beberapa ruas jalan yang sudah mengalami kerusakan di wilayah hukumnya. Antara lain, di pertigaan Larangan Munjungagung, di Desa Maribaya, dan di Desa Padaharja. Sementara untuk daerah rawan kecelakaan, di jalur pantura Dampyak, di jembatan Kalipah, dan di lintasan Maribaya. "Di pertigaan Munjungagung juga sering terjadi kecelakaan. Biasanya, pengendara akan terjebak dengan lampu merah yang tidak terlihat karena penerangan di lokasi tersebut sangat minim," ujarnya.
Mantan Kapolsek Warureja ini berharap kepada instansi terkait, supaya penerangan di jalur pantura diperbaiki. Sejauh ini, hampir sepanjang pantura Kramat, lampunya tidak berfungsi lagi. Selain itu, jalan yang sudah berlubang, supaya diaspal agar angka kecelakaan di wilayah Kabupaten Tegal, semakin berkurang. "Kecelakaan yang diakibatkan oleh human error, memang tinggi. Tapi alangkah baiknya, apabila sarana di Pantura di perbaiki sehingga dapat mengurangi tingkat kecelakaan yang terjadi," harapnya. (yer)
Demikian halnya dengan kendaraan. Baik sepeda motor
atau roda empat. Meski produksi setiap hari terus meningkat, banyak
membanjiri jalanan. Namun untuk kendaraan lama, ternyata para pecintanya
tidak sedikit, ada di berbagai kota. Misalnya jenis FJ 40, Jimny, Jeep
Willys, dan Hartop. Peminat mobil tersebut sangat tinggi, sehingga
berdampak terhadap harga. Bahkan sekalipun hanya kerangka, tetap saja
ada peminatnya. Karena biasanya mesin kendaraan diganti mesin lain.
Selain itu, sejumlah onderdil maupun bodi yang selanjutnya dipermak
sedemikian rupa. Dipercantik, sekalipun harus mengeluarkan dana lumayan
besar.
Menurut pecinta mobil antik Kota Tegal,
Soni Gagarin, semua itu tidak menjadi masalah, karena sudah berlangsung
sejak dulu. "Mobil-mobil tua banyak penggemarnya. Apalagi biasa
dipakai untuk off road. Sebuah rute yang jauh dari jalan raya.
Sebaliknya, komunitas jeep tua memilih medan berat. Masuk hutan
melewati tebing, bahkan medan berlumpur," ujarnya ketika ditemui di
bengkelnya, Jalan Cimanuk, Rabu (1/2).
Dia
menambahkan, dibutuhkan spek teknis berkualitas untuk mobil tua.
Onderdil yang dipakai benar-benar standar. Baik gardan atau kaki-kaki
dan final gear, semuanya harus berkualits. Termasuk ban atau bodinya.
"Modifikasi kendaraan off road memerlukan biaya Rp100 juta sampai Rp200
juta."
Dengan banyaknya pecinta mobil tua,
pesanan pembuatan bemper, overfender, dan bushweikeer, cukup dibuat
bengkel lokal. Pecinta Jeep lumayan banyak hingga ratusan. Para pehobis
Jeep sebagian ikut Komunitas Jeep Tegal (KJT). Selain itu, ada
Paguyuban Jeep Tegal (PJT). Di Pemalang, komunitas semacam ini
tergabung dalam Staper. Dalam waktu tertentu, mereka saling bertemu dan
silahturahmi, guna mengekalkan persahabatan. Dari off road sekaligus
dimaksudkan mengilangkan kepenatan setelah sekian lama bekerja. (abidin
abror)
BALAPULANG - Obyek Wisata (OW) Kalibakung yang berlokasi di Desa Kalibakung Kecamatan Balapulang, berpotensi sebagai wisata jamu. Karenanya, dalam waktu dekat ini OW yang dikenal sebagai cikal bakal lahirnya TNI AL itu, akan dimanfaatkan sebagai wisata kesehatan.
Demikian dilontarkan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal, dr Titis Cahyaningsih, saat dihubungi wartawan, kemarin (1/2). Menurutnya, ide pemanfaatan itu, dicetuskan oleh dinasnya yang bekerjasama dengan beberapa instansi terkait. Antara lain Dinas Pariwisata, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), serta Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dikpora). "Rencananya, kami akan membangun klinik jamu yang dilengkapi dengan etalase jamu dan berbagai jenis tanaman obat-obatan yang bisa dimanfaatkan untuk kesehatan," paparnya.
Program itu, kata wanita cantik ini, merupakan salah satu upaya dalam menyukseskan program saintifikasi jamu dari pemerintah pusat. Artinya, merupakan program yang pernah diintruksikan oleh Gubernur Jawa Tengah, agar semua wilayah baik kota maupun kabupaten supaya mengembangkan dan memasyarakatkan tanaman jamu sebagai tanaman kesehatan. "Untuk mewujudkan rencana itu, kami telah melakukan koordinasi lintas sektoral termasuk dalam penyiapan lahan yang akan digunakan nantinya," ujarnya.
Sejauh ini, upaya untuk menyukseskan program tersebut, pihaknya sudah menyiapkan dua dokter guna menanganinya. Dan saat ini, dua dokter yang ditunjuk, tengan mendalami ilmunya di Tawangmangu Kabupaten Karanganyar untuk menjadi dokter yang ahli dalam ilmu jamu sekaligus dapat mengelola klinik tersebut. Selain dokter, pihaknya juga akan menyiapkan apoteker sebagai peracik jamu serta menyiapkan tenaga ahli untuk memandunya.
"Tujuan adanya klinik jamu tersebut untuk melestarikan kekayaan alam Indonesia dalam saintifikasii jamu. Sehingga, pengobatan dengan jamu tersebut nantinya akan betul-betul diteliti secara ilmiah," sambungnya. Dia berharap, dengan adanya klinik jamu tersebut, masyarakat sekitar dapat mengenal jamu lebih dekat dan mengurangi penggunaan obat kimia. Selain itu, dapat mengurangi biaya pelayanan kesehatan serta mengurangi biaya pengobatan. "Kemungkinan besar, tahun ini klinik tersebut bisa diresmikan meski masih sederhana. Dan tentunya, setelah klinik itu hadir, kami juga akan menampilkan berbagai program agar klinik benar-benar ramai dan dimanfaatkan masyarakat sekitar," tutupnya. (yer)
source : radar tegal
Seorang Pengumpul Kayu di Hutan Balapulang
banyak warga sekitar memanfaatkan musibah pohon jati tumbang untuk mencari nafkah.
BALAPULANG - Area hutan yang termasuk wilayah Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Balapulang, kemarin diterjang bencana puting beliung. Akibatnya, ratusan pohon jati di wilayah itu tumbang.
Tumbangnya pohon jati di wilayah tersebut, merupakan kejadian keempat kalinya dalam kuru waktu tiga tahun terakhir. Kerugian yang diterima oleh KPH Balapulang, ditaksir mencapai mencapai miliaran rupiah.
Dari informasi yang didapat, angin puting beliung yang disertai hujan lebat datang dari arah Utara. Selang sekitar lima menit kemudian, ratusan pohon jati di petak 80 KPH Balapulang porak-poranda. Masih beruntung, pohon-pohon yang berusia puluhan tahun ini tidak menimpa perumahan warga yang tinggal di sekitar hutan.
Dikatakan oleh Kepala Seksi Pengelolaan Sumber Daya Hutan (Kasi PSDH) KPH Balapulang, Gatot Farid Prabowo SHut, 131 pohon jati tanaman tahun 1970 di wilayah RPH Kaligimber BKPH Margasari KPH Balapulang, tumbang diterjang angin yang memutar tersebut. Pohon yang tumbang berada di petak 81 sebanyak 25 pohon, petak 83c sebanyak 7 pohon, petak 83a sebanyak 13 pohon, petak 88 sebanyak 24 pohon, petak 85 sebanyak 3 pohon, dan petak 90 sebanyak 54 pohon. “Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam musibah itu,” kata Gatot Farid Prabowo.
Sedang Administratur KPH Balapulang, Ir Toni Suratno, menjelaskan, sebelumnya angin puting beliung juga menerjang sebanyak 135 pohon pada dua pekan lalu. Pohon itu berada di wilayah RPH Kaligimber, tepatnya di Petak 83d sebanyak 122 pohon, petak 83b sejumlah 3 pohon, dan petak 81 sebanyak 10 pohon. Kondisi tersebut berdampak pada kerusakan ekologi. Jika hutan terus dilanda angin puting beliung, maka hewan menjadi langka, air akan berkurang disaat kemarau, dan resapan air hujan juga akan berkurang.
“Belum saatnya pohon yang tumbang untuk ditebang, sehingga jika dijual harganya murah. Diperkirakan harga jualnya turun sekitar 50 persen, atau hanya sekitar Rp 2 juta setiap pohon,” jelas Toni Suratno.
Sementara, kerugian akibat tumbangnya pohon tersebut diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah dan jika diakumulasikan selama tiga tahun terakhir, bisa mencapai miliaran rupiah. Pohon yang tumbang itu terpaksa ditebang dan kini diamankan di TPK Margasari.
Selama tiga tahun terakhir, telah terjadi tiga kali pohon tumbang akibat angin kencang dan puting beliung. Yaitu pada November 2010 sebanyak 260 pohon, 18 Desember 2011 sebanyak 64 pohon, dan 14 Januari 2012 sebanyak 131 pohon. (gon)
teks source : Radar Tegal
Pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Tegal memiliki prospek yang bagus dan dapat diandalkan untuk mendukung keberhasilan pembangunan di berbagai sektor. Salah satu daerah wisata yang memberi kontribusi terhadap pendapatan daerah melalui retribusinya adalah Kawasan Obyek Wisata Guci. Kawasan ini terletak di antara Desa Guci Kecamatan Bumijawa dan Desa Rembul Kecamatan Bojong
peningkatan, pembenahan dan perbaikan permintaan wisata, sehingga dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke kawasan tersebut dan kebutuhan wisatawan dapat terpenuhi (misalnya: kualitas, keunikan dan keragaman Obyek Daya Tarik Wisata, sarana dan prasarana penunjang, serta aksesibilitas dan pencapaian yang mudah). Perbaikan permintaan wisata juga dilakukan melalui promosi kepada khalayak yang lebih luas secara bersamaan atau terpadu, selain itu juga perlu adanya promosi melalui atraksi tambahan mingguan dalam mengatasi turunnya pengunjung.
Perluasan dan pengembangan obyek wisata disekitar Guci akan menjadikan minat bagi dayatarik pariwisata kabupaten tegal , wisata pertanian (agro wisata) dengan konsep seperti taman buah Mekarsari Jonggol dan wisata bunga, sayur dan buah Cihideung Lembang Bandung, dan adanya penginapan alternatif model homestay dengan menawarkan nuansa alami pedesaan dengan tarif yang kompetitif. Wilayah Kecamatan Jatinegara adalah daerah pengembangan yang sangat strategis untuk pengembangan minat wisata alternative dan pengembangan wisata pertanian (agro wisata).
Dengan kekayaan alam Kecamatan Jatinegara Sebagai Pemasok Buah buahan untuk kabupaten Tegal komoditi buah unggulan Kecamatan Jatinegara Durian dan Manggis dapat dijjadikan mascot pengembangan wisata pertanian ( Agro wisata) Jatinegara, karena manggis dan durian adalah buah yang diminati dan banyak di tanam masyarakat Kecamatan Jatinegara selain buah buahan lain yang dikembangkan diwilayah Jatinegara, pengembangan fasilitas pendukung pariwisata diwilayah pengembangan wisata alternative merupakan daya dukung pengembangan wisata di kabupaten tegal dengan upaya pengembangan Program PERTIWI (Pertanian, Industri dan Wisata) dan menjadikan Kabupaten Tegal sebagai Kabupaten Tujuan wisata.
Source : http://kilurahsemar.wordpress.com
Source : http://kilurahsemar.wordpress.com
Poci Asli Tegal
Tegal adalah sebuah kata dari bahasa Jawa yang arti harafiahnya adalah “ladang”.Teh Poci yaitu teh diseduh dalam poci (cerek kecil) dari tanah liat dan ditambah dengan gula batu dan diminum panas-panas, minuman ini sangat disukai oleh masyarakat Tegal, Slawi, Pemalang, Brebes dan sekitarnya. Ada istilah teh poci “WASGITEL” singkatan dari wangi, panas, sepet, legi, lan (dan) kentel (kental), yang artinya teh panas, manis, wangi beraroma bunga melati dan berwarna hitam pekat/kental.Teh Poci biasanya menggunakan teh (hijau) melati yang mengeluarkan aroma yang khas, dan biasa disajikan dipagi atau sore / malam hari dengan ditemani makanan kecil. Poci yang digunakan untuk menyeduh teh poci biasanya bagian dalam pocinya tidak pernah dicuci tetapi cukup dibuang sisa tehnya saja. Hal ini dipercaya masyarakat Tegal kerak sisa teh tadi akan menambah cita rasa dan aroma teh poci menjadi semakin enak.
Di luar daerah Tegal teh poci dapat dijumpai di warteg (Warung Tegal). Perangkat minum teh poci yang asli adalah poci (cerek kecil) dan cangkir dari tanah liat.Hidangan minuman ini disajikan dengan gula batu dan lebih pas diminum selagi masih hangat agak panas. Gula batu (disebut juga Rock Sugar) adalah gula yang dibuat dari gula pasir, yang dikristalkan, melalui bantuan air yang dipanaskan.Biasanya ditambahkan ke dalam teh, harum dan manis rasanya.Bahan dan alat yang diperlukan untuk membuat gula batu antara lain panci , gula pasir , benang (kapas atau wol) , penyangga benang , dan Jar (tempat yang terbuat dari kaca).
Cara umum membuat gula batu yaitu:Tuangkan air ke dalam panci dan panaskan air hingga mendidih. Kecilkan pemanas, sedikit demi sedikit tambahkan gula, sambil diaduk perlahan-lahan. Matikan pemanas. Sambil diaduk, tambahkan lagi gula, sampai terlihat butiran-butiran gula yang tidak dapat larut dalam air . Biarkan hingga dingin. Air panas dapat melarutkan jauh lebih banyak gula, dibandingkan dengan air dingin) , (Hati-hati ! , air gula panas dapat menyebabkan luka bakar yang parah). Setelah dingin, tuangkan ke dalam Jar . Ikatkan benang itu pada penyangga benang, kemudian taruh di atas Jar, sementara benang-nya tercelup (jangan menyentuh dasar atau pinggir Jar). Tunggu hingga kristal gula, mulai kelihatan terbentuk. Semakin luas permukaan Jar, semakin cepat gula mendingin, dan semakin cepat kristal gula terbentuk). Pada benang, akan terlihat kristal gula yang terbentuk dan sedang bertumbuh. Setelah mencapai ukuran seberapa besar kristal gula yang diinginkan, angkat benang, dan keringkan kristal itu. Kebiasaaan minum teh poci atau moci telah menjadi tradisi bagi orang Tegal, ini disebabkan pertumbuhan pabrik-pabrik teh di Tegal pada tahun 1930-an yang menyebabkan timbulnya tradisi itu. Minum teh menjadi gencar sejak zaman kolonial hingga kini dan sudah menjadi budaya lokal.
PANGKAH – Kendal Serut Pusat Kerajinan anyaman Bambu Kabupaten Tegal, Terletak 1km Di sebelah timur kota Slawi yang sebagian besar warganya merupakan pengrajin anyaman bamboo. Walaupun kerajinan bambu saat ini mulai tersisih dari kerajinan bahan lain, namun keberadaanya masih tetap eksis. Terbukti masih banyak masayarakat yang menggunakan barang-barang hasil dari kerajinan bambu. Salah satu sentra kerajinan bambu di Kabupaten Tegal terletak di Desa Kendal Serut Kecamatan Pangkah.
Beberapa hasil kerajinan bambu yang masih dibuat oleh Warga Desa Kendal Serut antara lain kipas, tempat nasi, hiasan dinding, atap dan keranjang bambu. Aktifitas ini mampu menyerap tenaga kerja di desa yang terletak di Pinggiran Sungai Gung ini. Bahkan, beberapa warga menggantungkan kehidupannya di kerajianan ini.
Source : http://kilurahsemar.wordpress.com























